Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2017

Kuliner Jogja: NOE Coffee & Kitchen

Setelah setahun lebih ga nulis, akhirnya hari ini "dipaksa" nulis lagi. Semoga ini jadi awal yang baik untuk tetap rajin menulis.

Undangan dari Noe

Berawal dari undangan yang diberikan oleh @elowelowel untuk icip2 di sebuah kedai kopi baru yang terletak di timur RS Bethesda. Namanya NOE. Sebuah tempat hangout bernuansa rustic dengan ornamen kayu yang dominan. Rasanya seperti berada di dalam sebuah barn di Wild West. Ditambah lagi adanya simbol rusa jantan yang menghadang di pintu masuk, rasanya jadi makin kental atmosfer rusticnya. Yang bikin unik, beberapa lampu bohlam menggantung di beberapa titik ruang membuatku merasa dikelilingi kunang-kunang yang bersinar temaram. Penataannya begitu pas menimbulkan sebuah suasana romantis dan lembut di tengah "liar"nya dunia Wild West. Sangat suka!!


So rustic! Seperti di dalam barn.


Balik lagi ke nama NOE, ternyata itu adalah singkatan dari Night of Excellence. Sebuah prinsip yang ingin NOE berikan kepada setiap customer yang datang dan merasakan malam yang berkesan dari apa yang mereka sajikan.

Sekarang mari kita uji prinsip mereka tadi ;) . 

Cukup lama bagiku untuk memutuskan menu apa yang akan kupesan. Banyak makanan dan minuman favoritku yang tertera di daftar menu, diantaranya: mojito, matcha, berbagai jenis minuman kopi, spaghetti aglio olio, hingga mozzarella goreng!! Akhirnya aku memutuskan untuk memesan chicken mozzarella dan affogato.

Untuk olahan kopinya, mereka menggunakan house blend, alias campuran beberapa varian kopi yang menghasilkan citarasa khas. Sebenarnya aku sendiri bukan penggemar kopi. Namun karena Mojo hobi banget ngopi dan tiap hari harus bikinin sesuai sama taste dia, maka mau ga mau harus belajar bedain rasa kopi. Yah, balik lagi karena aku bukan penggemar kopi, aku selalu pesan affogato di setiap kedai kopi. Alasannya sudah jelas, karena ada eskrimnya namun rasa asli kopinya masih terasa. Tidak ada yang spesial jika melihat dari sisi tampilan. Standar saja, gelas bening berisi 1 scoop eskrim dan di bawah eskrim terlihat kopi kental espresso. Segera saja kusendok sedikit eskrim yang tercampur air kopi. Sempat terdiam sesaat karena terpana. Rasanya seperti terhipnotis. Kombinasi manisnya eskrim vanilla bercampur dengan asamnya house blend espresso. Kebetulan memang aku lebih suka kopi dengan rasa asam yang dominan. Suap demi suap kunikmati hingga tanpa sadar satu porsi affogato habis tandas tak bersisa.


Segelas affogato dengan latar mesin espresso Simonelli

Menu selanjutnya sudah hadir: chicken mozarella. Fillet dada ayam yang disiram dengan keju mozarella cair. Hmmm.. siapa sih yang ngga tergoda sama chooey-nya mozarella? Sensasi gurih dan mulurnya itu lhoo.. bikin nagih. Apalagi kali ini digabung sama dada ayam yang renyah karena berbalut tepung roti. Chicken Mozarella disajikan bersama french fries, salad, dan signature sauce mereka.

Chicken Mozarella


Terus terang saat melihat pricelist, harganya sedikit lebih tinggi dari ekspektasiku. Namun itu semua dapat kumaklumi saat satu demi satu menu yang kami pesan datang. Porsinya mantab!! Kalau tidak sedang dalam kondisi lapar maksimal, porsinya terlalu besar untukku. Bisa lah untuk makan cantik berduaan. Belum lagi setelah mengetahui bagaimana Head Chefnya begitu hati-hati dalam memastikan kualitas setiap bahan yang akan diolah. Kurasa harga yang mereka tampilkan sesuai dengan apa yang mereka sajikan. Kalau boleh jujur, house blend coffee mereka adalah salah satu favoritku dari beberapa kedai kopi yang pernah kucoba di Jogja.

Kurasa kalau dari sajian, Noe sudah menawarkan sesuatu yang menarik. Tinggal bagaimana memberi kesan lebih dengan "sentuhan personal" agar membuat setiap orang yang pernah mencicip sajiannya ingin terus kembali dan kembali lagi ;)


NOE: Night of Excelence

Product : 8 | House Blend Coffeenya favoritku.
Price     : 6 | sedikit pricey tapi apa yang didapat worth the money
Place    : 6.5 | agak merepotkan kalau bawa mobil di siang hari. Interior sangat IG-able.

Balik lagi? Jelas!! Ajak Mojo juga karena pasti dia bakal suka kopinya.

Selasa, 23 Desember 2014

Siraman dan Midodareni

Ngek ngookk... setelah lama keasyikan jadi istri sampe males buka blog dan akhirnyaa saya kembaliii hahaha.. Kemaren-kemaren adanya cuma jalan-jalan, kulineran, nonton DVD, sampe gitaran sama nyanyi-nyanyi berdua sama suamiku tercintah. Bener-bener dunia serasa milik berdua. Males banget mau buka blog hehe.. 

Langsung aja deh cerita tentang proses siramanku. Semoga ingatanku cukup bagus dalam mengulang prosesi tersebut.
Kreweng buatanku 
 nantinya digunakan sebagai alat tukar saat prosesi dodol dawet.

Rabu, 23 Juli 2014

Busana Prosesi Pernikahan


Bagi banyak wanita, busana merupakan salah satu hal terpenting dalam prosesi pernikahan. Berbagai persiapan pastilah dilakukan. Mulai dari menentukan model baju, hingga menentukan penjahit/desainer mana yang akan diberi kepercayaan membuat busana di hari terpenting dalam hidup tersebut.
Gaun pengantin cantik (sumber gambar : www.weddingsromantique.com

Jumat, 08 November 2013

Wedding Ring: it is called Kalpika Tresna

Wedding Ring
Sumber

Wedding ring atau sesupe seser adalah salah satu aitem paningset. Bentuknya berupa cincin tanpa mata, tanpa ujung pangkal maupun pembatas. Itu versi aslinya. Kalau sekarang sih modelnya udah macem-macem. Cincin ini jika dikenakan di jari manis kiri disebut ngrasuk kalpika. Jika dipakai di jari manis kanan disebut kalpika tresna. Banyak pasangan yang mendahulukan cincin dalam persiapan pernikahannya. Inginku pun seperti itu, mengingat proses pembuatan cincin memakan waktu cukup lama. Namun setelah melalui berbagai drama (halaah), kami baru bisa benar-benar mencari cincin setelah harinya mepet, kurang 1,5bulan dari hari pernikahan. 

Senin, 02 September 2013

Vendor Fotografi Pernikahan di Jogja, Magelang, dan sekitarnya

Tumbenan baru on-fire banget nulis, jadi tancap gas bikin dua posting sekaligus. Kali ini aku akan mengulas beberapa vendor fotografi pernikahan yang sempet aku survey beberapa bulan yang lalu.
# Mata Angin - Jogja. Lokasinya di Jl. Ahmad Dahlan, tepatnya di sebelah timurnya PKU Muhammadiyah/baratnya nol kilometer. Ownernya bernama mas Haris. Kami pertama bertemu saat wedding expo di Mal Malioboro. Karena vendor ini yang pertama kali aku dan Mojo temui, otomatis patokannya jadi ke sini semua. Hasilnya menurut Mojo (yang bawel banget soal foto) bagus. Pemilihan angle, ketelitian, pengambilan detail, pencahayaan, dll semua bagus. Mas Haris sendiri orangnya perfeksionis, jadi dia mau semua hasil kerjanya ngga asal-asalan. Jenis paketannya ngga banyak, dan Mata Angin ngga menyediakan layanan photobooth. Aku lupa harga paketnya, kalau ngga salah paket untuk dua hari acara sekitar 8-12jutaan dan transport untuk ke Magelang kena 500ribuan. Mungkin karena faktor takdir akhirnya kami tidak berjodoh hehe.. karena sebenernya mereka udah perfect banget kombinasi harga dan kualitasnya.
#Agatha Photo. Vendor foto yang cukup berumur dan tersohor di Jogja. Nama besarnya sudah sering ku dengar. Sayang, saat melihat portofolio mereka di wedding expo yang sama dengan Mata Angin, hasilnya lebih bagus Mata Angin. Mungkin seperti kebanyakan jasa fotografi senior, yang berangkat ke lapangan fotografer baru. Jadi yaa gitu deh.. hasilnya ngga sebesar merknya.
#Colorful. Lokasi di sebrangnya XXI Jl.Solo. Kebetulan ownernya adalah temenku, namanya Danto. Berawal dari hobi, akhirnya Colorful ini sekarang jadi pemain besar di Jogja, bahkan udah buka di Jakarta juga. Ciri khas dari vendor ini adalah atmosfer "ceria" yang muncul dari gambarnya. Untuk harga paketannya, mulai dari 2jt dengan isi paket yang tentunya seadanya hingga berapa ya? Aku lupa hehe.. yang jelas jam terbang fotografer dan konten akan menyesuaikan dengan harganya. Aku sih suka-suka aja liatnya, cheerful gitu.. tapi Mojo ga suka angle2nya.
#Gibran Exclusive Photography- Jogja. Terletak di Jl.Monjali. Paketan dua hari kalau ga salah sih 15Jutaan. Sebenernya aku beberapa kali pakai jasa mereka, waktu wisuda dan foto couple, bagus sih.. sayangnya mereka ga banyak portofolio wedding.
#Exotic - Jogja. Lokasi di Seturan, sebrangnya STIE YKPN. Eemmm..ga tega sebenernya mau ngulas studio ini. Billboardnya doang yang gede, tapi perbandingan harga dan hasilnya, IMO, sangat overpriced. Kalau interior kantornya sih bagus banget, cuma waktu buka albumnya err.. aku cuma bisa lirik-lirikan sama adekku saat ngeliat hasil foto layaknya pernikahan di tahun 90an. Udah ah itu aja. Neexxt....
# Pak Jepret Photography - Jogja. Ini nih vendor kami. Secara umum mereka oke, hasil dan harganya. Harga paketannya mulai 6jutaan. Salah satu nilai plus vendor ini adalah ownernya ramah banget dan detail-detail yang kami mau bisa mereka fasilitasi. Kebetulan ownernya adalah (dulunya) anak Fisipol UGM, temen-temennya Mojo. Sejak awal kami berdua ingin difoto oleh teman sendiri. Niat ini sempat kami urungkan (makanya terus cari vendor lain) karena mereka sudah punya agenda di hari pernikahan kami. Tapi memang namanya jodoh tak kan ke mana. Akhirnya hari pernikahanku diabadikan oleh Mojo's besties  :D . Betapa senangnya.
#Getmy Photoworks - Magelang. Nama ownernya mas Getmy, orangnya ramah dan menyenangkan diajak ngobrol. Kalau mau cari jasa fotografi oke dengan budget terbatas, aku akan merekomendasikan vendor ini. Hasil portofolionya cukup bagus. Untuk pre-wedding pun, mas Getmy cukup "berani" memberikan konsep yang unik.  Lokasinya di Kebonpolo, seberangnya Alfamart.
Note: aku suka hasil foto lanskapnya beliau. Cakep-cakep.
# The Photoworks - Magelang. Awalnya liat hasil mereka di cover wedding video saat survey vendor video di Mahami (Bayeman). Karena menurutku fotonya keren banget, akhirnya aku tanya vendor fotonya dari mana. Akhirnya dapet kontaknya mas Gepy dan bikin appointment. Waktu ngobrol asik banget dan orangnya ramah. Hasil fotonya pun keren banget. Bedanya sama Mata Angin, kalau MA itu gayanya lebih priyayi dan kalau Photoworks itu lebih masa kini. Mereka berdua keren dengan gayanya masing-masing. Soal harga, ada di kisaran 10jt. Harga standar untuk hasil terbaik. Sedikit sedih sih akhirnya ngga jadi pake mereka, tp mungkin di lain kesempatan bisa berjodoh  :)
Note: Foto studionya asik banget. Aku berkali-kali foto di sana. Ngga mahal, dilenongin sampe cantik ama mbak Puri, permainan cahaya dan bayangan yang bikin foto terkesan elegan, dan yang paling penting kru yg motret asik bikin kita santai dan ekspresif.
#The Photosive - Magelang. Ini adalah grupnya The Photoworks juga. Beda gaya, kalo kata mas Gepy. Hehe.. ya itu bahasa yang lebih halus untuk merujuk segmen pasar lainnya. Intinya Photosive ini harganya di bawah Photoworks.
Bersambung kapan-kapan kalau udah inget harga-harganya lagi. Semoga bermanfaat  ;)

Jumat, 16 Agustus 2013

Vendor Dokumentasi: Make it Everlast

Bete banget mau nulis posting dokumentasi ini. Gara-garanya beberapa hari yang lalu udah nuliiiss banyaaakk.. sampai mau selesai, eehh.. filenya ilang. Setelah tragedi itu jadi bawaannya bete aja ~>_<~.
Daripada ntar moodnya keburu ilang, langsung ke pokok permasalahan aja deh. Di bawah ini aku sebutin apa aja langkah-langkahku dalam memilih vendor dokumentasi.
1. Survey. Jelas ini penting untuk menambah khazanah pervendoran. Vendor dokumentasi adalah vendor yang hasilnya bakal dinikmati sepanjang masa, jadi biasanya soal selera lebih dibicarakan dibanding hanya sekedar rupiah. Itu kalo pola pikir pengantennya sih, kalo orang tua sebagai pemangku hajat dan pemangku dana sih tetep katering nomor satu hehe.. kembali ke topik: banyak-banyaklah cari referensi tentang vendor dokumentasi. Pencarian vendor bisa berdasar lokasi (cari vendor yg berasal dari kota tertentu) atau bisa jg berdasar taste (lokasinya bisa mana aja). Surveynya bisa dengan masuk ke tiap studio foto satu per satu, survey via Facebook, Google, Instagram, dll, datang ke Wedding Expo, survey ke temen atau kerabat yang habis nikah, atau cara apapun lah..
2. Sort them. Setelah survey dan udah ngumpulin segepok brosur, sekarang tinggal disortir. Penyortiran bisa dilakukan berdasar budget (duit lagii, duit lagii..) atau berdasarkan taste. Aku sendiri di awal sudah mematok kisaran alokasi dana. Tapi aku dan Mojo juga sudah punya beberapa kriteria yang akan aku sebutkan kemudian.
3. Selalu lihat hasil cetak vendor fotografi. Jika sudah ada beberapa yang diminati, jangan malas untuk melihat hasil cetak mereka. Hasil digital yang dilihat di web maupun Facebook tidak selalu sama bagusnya dengan hasil cetak. Apalagi kalau yang pake edit-edit latar dan efek aneh-aneh(biasanya di foto pre wedding ). Sekalian bisa dilihat kualitas cetakan. Tanyakan juga berapa hasil cetak yang akan kita dapatkan. Jenis album yang berbeda dan ukuran yang berbeda bisa bikin harga paketan berubah banget.
4. Lihat isi albumnya. Setelah melihat secara fisik hasil cetaknya, amati contentnya. Pada dasarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, alur dokumentasi upacara. Namanya saja dokumentasi, tentunya saat melihat album kita jadi seperti membaca buku cerita. Ada alur dan kronologi ceritanya. Bagaimana awal mula siraman, midodareni, hingga panggih, dst. Foto-fotonya menunjukkan jalan cerita yang runtut. Kedua, perhatikan foto keluarga. Pada saat resepsi tentu ada sesi foto keluarga maupun tamu bersama mempelai di pelaminan. Perhatikan keserasian dan posisinya. Apakah si pakdhe kurang miring ke kanan, si tante merem matanya, sepupu A matanya red-eye, dan hal-hal lain yang menggangu estetika foto keluarga tersebut. Yang terakhir kaitannya dengan "mengabadikan keindahan". Apakah orang tua yang terlihat bahagia, pengantin yang cantik, upacara yang khidmat, dan dekorasi yang megah bisa "terlihat" di dokumentasi tersebut.
5. Cari tahu reputasi vendor. Reputasi ini bisa dalam hal apapun, tergantung masing-masing orang. Bisa jadi berkaitan dengan deadline hasil jadi, jumlah SDM, kualitas hasil, dll. Aku pernah mengurungkan niat untuk mengambil sebuah vendor fotografi, karena dengar cerita sang vendor tiba-tiba ngga sanggup trus diganti dengan "temannya".
Itu beberapa pertimbanganku dalam memilih vendor fotografi. Untuk videografi sendiri aku ngga terlalu rewel, jadi ngga terlalu ngoyo banget carinya. Cukup paketan dari foto aja hehe..
That's all..  semoga bermanfaat bagi teman-teman capeng yang sedang berburu vendor dokumentasi  o∩_∩o

Senin, 10 Juni 2013

Vendor Katering: Budget vs Rasa vs Tampilan

Aaahh Thank Goooodddd... akhirnya udah kasi DP vendor katering setelah sekian lama semedi pilih pilih yang sesuai di hati, di kantong, di mata, dan tentu aja.. di lidah hehe.. 


Konon katanya, hal yang paling penting dalam sebuah pesta resepsi adalah makanan. Karena makanan adalah wujud penghormatan tuan rumah terhadap tamu yang hadir. Memang, makanan yang disajikan tidak perlu selalu mewah dan mahal , yang penting adalah pantas dan cukup jumlahnya. Begitu pentingnya jamuan untuk tamu, proses pemilihan vendor katering ini membutuhkan perhatian khusus yang berbeda dengan vendor lain. 

Ada beberapa hal yang aku jadikan patokan dalam memilih vendor katering:

1. Harga 
Makanan merupakan porsi terbesar dalam komposisi budget pesta pernikahan. Untuk menjaga dana yang ada mengalir right on track, maka aku harus ketat dalam memilih vendor katering dari aspek harga. Selisih Rp10.000/porsi artinya adalah Rp20.000.000 jika kita mengundang 2000 tamu. Ehm, big money, eh

2. Reputasi
Aspek ini ngga kalah penting dari aspek harga, dan menurutku jauh lebih penting dari aspek rasa. Kenapa? Karena tidak ada artinya makanan selezat apapun jika belum setengah jalan acara namun makanan sudah habis, atau banyak sisa makanan berceceran di lantai. Tidak jarang kutemui ada katering yang membawa perabot makan yang tidak sesuai dengan jumlah porsi, sehingga ada adegan cuci piring dan gelas. Kalau bisa hindari katering semacam ini. Reputasi katering meliputi: Kemampuan menghitung makanan dan perabot makan, kejujuran, kebersihan, kontrol di lapangan, dan hubungan baik dengan vendor lain.

3. Rasa
Apa yang harus ku jelaskan? Hehe.. kukira semua orang sudah paham akan hal ini. Jika memungkinkan lakukan foodtest lokasi tidak hanya sekali. Tujuannya adalah untuk menguji konsistensi rasa dan reputasi tadi. Karena tidak jarang pihak katering meng-outsource-kan menu tertentu.Satu hal yang kuperhatikan, kebanyakan vendor enak di gubukan tapi so-so di buffet. Entah kenapa.

4. Tampilan
Ini faktor yang tidak terlalu penting, namun tidak ada salahnya diperhatikan sebagai aspek estetik. Yang dimaksud tampilan adalah plating (halah, korban Master Chef), kerapian seragam tim katering, dan dekorasi stall. Ah iya, buat yang belum tau, kebanyakan katering bertanggung jawab atas dekorasi areal makan. Jadi jangan lupa pastikan koordinasi mengenai hal ini.



Itu tadi beberapa hal yang aku jadikan patokan dalam memilih vendor katering pernikahan. Ada beberapa hal lain yang juga menurutku penting, tapi sengaja tidak kumasukkan ke penjelasan di atas: kenyamanan komunikasi dengan marketing katering. Hal ini bukan sesuatu yang berdasarkan "hitungan logis", namun lebih ke emosi. Saat kita nyaman berkoordinasi, maka semua akan berjalan lebih baik. Soalnya udah sreg dulu. 

Oh iya, ada tambahan lagi. Jika rentang waktu acara lebih dari dua-tiga jam, jangan lupa dibicarakan dengan pihak katering. Karena biasanya akan ada biaya tambahan untuk setiap kelebihan waktunya.

Beberapa katering yang sempat ku survey:

1. Lupa namanya- Temanggung
Ownernya adalah seorang pensiunan polisi. Katering ini sangat populer, karena terjangkau, kapasitasnya besar, dan menunya beragam. Jika sudah sampai di kota Temanggung bisa tanya ke warga sekitar untuk lokasinya (dont ask me , aku buta arah). Yang jelas lokasinya di tengah kotanya trus masuk gang.

Pros: harga standar, varian menu banyak, skala besar 

Cons: banyak rumor mengatakan mereka banyak meng-outsource menu sehingga rasa tidak konsisten, tidak ada limit order dalam satu hari.

Note: tengklengnya enak 

2. Vas - Temanggung
Katering ini relatif baru, meski begitu punya banyak pelanggan yang dengan senang hati merekomendasikannya ke orang lain. Lokasinya sebelum "kota" Temanggung. Jangan tanya aku lokasinya, dulu pun nyasar dan sekarang lupa hehe.. Kalau ngga salah pasar Kranggan trus belok kanan. 
Dulu pernah ke resepsi yang pake Vas ini, makanannya biasa banget kalo ngga mau dibilang kurang enak. Tapi staf, kru lapangan, dan leader lapangannya luar biasa ramah dan sigap. 

Pros: harga standar, bersih, perabotan dan dekorasi bagus dan baru banget, pelayanan bagus. Reputasi bagus.

Cons: rasa kurang, varian menu terbatas dan tidak bisa custom. 

Note: -Untuk rangkaian acara non-resepsi akhirnya aku pakai jasa Vas. Aku tidak sempat makan, namun keluarga suami dan kru vendor lain banyak yang memuji makanannya enak. Bahkan ada yang ngaku kalo makan baksonya sampe nambah 2 kali hehehe.. 
-Tambahan lagi, tidak ada biaya transportasi untuk Kota Magelang (batas paling selatan adalah Gedung Wiworo Wiji Pinilih/eks DPRD). Karena rumahku di Kabupaten Magelang, maka dikenakan biaya tambahan 500ribu sekali jalan (setiap satu acara). 
-Aku puas dengan pelayanan mereka (ngga bisa komentar rasanya karena memang ngga sempat nyicip). Akan kupertimbangkan untuk memakai jasa mereka lagi kelak.

3. Sari Rasa - Magelang
Katering papan atas di Magelang. Soal rasa, seperti namanya, tidak ada yang menyangkal kelezatannya. Tapi juga seperti namanya, mereka hanya fokus ke rasa. Kalau pake katering ini mesti koordinasi sama pihak dekor untuk penambahan dekorasi di sekitar meja plus area VIP. 
Lokasinya di daerah Bayeman,  Kota Magelang. Tepatnya sebelah timur hotel Lokasari, atau belakangnya Apotek Borobudur.

Pros: Enak pake banget. Ga ada yang menyangkal kelezatannya. Pembatasan order maks. 2 klien dalam sehari. Owner mengawasi langsung. Owner strict dan perfeksionis. Bisa paketan dari pengajian sampai bingkisan untuk keluarga juga.

Cons: Lumayan mahiil.. meski ngga banget , ga ada dekor sama sekali bahkan sekuntum bunga pun, owner yang strict jika tidak didukung dg vendor lain yang legowo bisa jd potensi konflik.

4. Karunia - Jogja
Lokasi di jalan Kaliurang km 5, diurutin aja, ntar ada plangnya di timur jalan. Masuk gang dikit. 
Katering ini papan atasnya di Jogja. Ngga ada yang bisa dikomentari, selama budget nya masuk. 

Pros: harus bilang apa? Hehe.. papan atas mamen.. ngga ada biaya transport tapi diberlakukan harga luar kota (entah kenapa aku lebih suka model seperti ini)

Cons: Mayan mehong tapi masih terjangkau dan sebanding dengan layanannya. 

5. Dani - Jogja
Lokasi di daerah Jombor. Agak masuk dikit, lupa juga gangnya yang mana. 
Another high-end one. Katering yang dirintis oleh sang ibu dan kini mendapat sentuhan modern dari sang anak.

Pros: papan atas mamen.. dekornya juga keren, pake gebyok-gebyok mini. kostum bisa custom dg biaya tambahan. Menu fleksibel (bisa request).

Cons: selama aku survey katering, ini yang paling mahal selain Anggrek - Semarang. biaya transport mayan gede juga. Waktu itu di simulasiku dikenakan 5 atau 6 juta untuk tambahan transportasi.

6. Salsa - Jogja
Lokasinya di sebelah barat balai kota, sisi utara jalan. 
Katering ini juga termasuk angkatan seumur Karunia dan Dani, namun dengan klasifikasi harga di bawahnya. 
Marketingnya ramaaaahh.. banget. Sampe bingung waktu mau menyampaikan kalo ngga jadi pake mereka.

Pros: harga standar, marketingnya baik banget sampe bikin sungkan, beberapa kali liat di lapangan bagus dan mayan bersih, armada transportasi besar sehingga untuk klien luar kota chargenya ngga terlalu banyak. Kalau ngga salah cuma 500rb sampai Magelang.

Cons: dekorasinya old-fashioned. Sebenarnya waktu kusampaikan kalau ngga jadi karena faktor dekorasi, pihak marketingnya menjanjikan bisa diatur sesuai permintaan. Namun aku dan Mama terlanjur kena pelet  katering yang di bawah ini :D

7. Sirikit - Jogja
Konon katanya dulu "orangnya" Anggrek-Semarang (mas Stanlus protes ntar kalo disama-samain sama Anggrek terus hihihi..). Ngeliat menu dan gaya tampilannya sih Anggrek bangettt. Bedanya dengan harga terjangkau hahaha.. versi lebih murahnya lah..
Lokasinya di Baciro, deketan sama Bowie salon / Brimob.  Mereka punya WO juga, namanya Kapulaga.

Pros: Anggrek-style with affordable price. Hubungan baik dengan vendor lain. Gaya dekorasinya asik dan terus berganti secara berkala, tampilan makanannya cakep udah gitu henyaakk, seragamnya rapi, porsinya juga pas, ngga mungil-mungil amat.

Cons: Katering baru (5tahun), reputasi belum benar-benar teruji.  Charge untuk klien luar kota mayan gede. Aku kena 6 juta untuk transportasi sampe Magelang.

Note: -Aku pakai katering ini untuk resepsi di gedung. Banyak komentar berdatangan selepas acara, baik dari teman, keluarga, tamu yang mengatakan bahwa kateringnya enak sekali. Bahkan semua menu katanya enak.
-Favoritku adalah mix fruit punch. Minuman ringan yang segar dan tidak terlalu manis. Juga bikin kesan eksklusif. Nasi bebek nya juga enak, disajikan di mangkuk dari pangsit goreng. Garang asemnya lebih enak lagi. Kebabnya juga manteb banget sih.  Anu, es puter duriannya dulu ga kebagian deh.. Aaahh sudahlah.. semoga ada undangan resepsi yang pake Sirikit dalam waktu dekat ini  >_<

8. Ibu Supardi - Jogja
Lokasinya di Kotagede. 
Banyak teman merekomendasikan katering ini karena rasa, harga dan reputasi. Hanya aja waktu aku ke sana, stafnya ngga ngerti produk. Saat aku minta simulasi, slow respond dan simulasinya terkesan sekenanya. Jumlah undangan x 2 x porsi menu. Misal buffet: 1000und x 2 x 25.000, trus ditambah baso 1000und x 2 x 8000, trus misal dimsum 1000und x 2 x 12000 , dan selanjutnya. Padahal setahu aku, komposisi jumlah porsi tidak semua dikalikan jumlah tamu, namun ada kombinasinya. 

Pros: ada beberapa teman yang udah pake dan katanya puas.

Cons: entahlah.. ngga sreg sama stafnya dan hitungan simulasinya.


Lalu katering mana yang aku pilih? Untuk resepsi gedung aku pilih Sirikit. Sedangkan untuk di rumah aku pilih Vas.

Selasa, 07 Mei 2013

Vendor Paes Manten

Vendor paes adalah vendor pertama yang langsung aku putuskan bahkan sebelum aku punya rencana untuk menikah hehe.. Aneh ya? Ceritanya waktu my bestie, Hanggit, nikah, aku sempet kaget karena dia begitu manglingi saat resepsi. Sedangkan sahabatku satu ini termasuk hobi dandan dalam kesehariannya. Kalau seorang Hanggit yang sehari-hari aja udah bermakeup dan cantik, lalu saat nikahan dia masih bisa lebih cantik lagi, hmm.. itu luar biasa menurutku. Gara-gara dia lah aku langsung tanpa ragu memutuskan vendor paesku adalah Bu Wito, perias manten yang merias sahabatku itu. 
 
Bu Wito ini sudah cukup sepuh dan merupakan paes senior di Magelang. Sebagai bayangan, anak sulungnya sudah berusia 43 tahun *wow*. Meski sudah sepuh, tapi Bu Wito ini cantik sekali, ga kebayang kaya apa masa mudanya. Sebenarnya beliau sudah disarankan oleh putra-putrinya untuk istirahat saja, tidak usah merias lagi, namun Bu Wito yang passionnya adalah merias tentu keberatan jika tidak merias sama sekali. Maka dari itu beliau masih merias meski tidak money-oriented. Yep. Beliau menyatakan bahwa tujuannya merias adalah sebagai sarana ibadah. Kalaupun ada hasil dari merias, maka hasilnya beliau gunakan untuk membantu orang yang membutuhkan. Gimana ngga makin kagum sama Bu Wito coba.. udah ayu, anggun, skillful, dermawan pula. Sebagai gambaran reputasinya, beliau merupakan langganan ibu-ibu  isteri Jenderal TNI dan pejabat lain di Magelang. 

Selain hasil rias yang halus, Bu Wito juga pemegang adat Jawa yang cukup kuat. Satu lagi poin yang bikin aku makin kagum dengan beliau. Beliau paham betul budaya Jawa, khususnya yang berkaitan dengan ritual upacara pernikahan secara pakem berikut filosofinya. Bahkan saat aku bertanya mengenai perbedaannya dengan ritual yang populer saat ini, beliau mampu menjelaskan kisah kenapa ritual populer tersebut muncul dan siapa yang menginisiasi ritual baru tersebut. Saat aku menunjukkan salah satu foto yang kuunduh dari internet (maksudnya sih buat referensi), Bu Wito sempat terhenyak dan menanyakan siapa yang merias. Setelah ku jawab bahwa itu foto di internet, beliau menjelaskan bahwa gaya rias di foto itu kurang tepat semua. Beliau mencontohkan itu adalah salah satu bentuk modifikasi yang tidak memperhatikan filosofinya. Intinya pada foto itu si pengantin menggunakan busana Solo basahan taqwa (berbolero), namun jenis boleronya kurang panjang (yang dipakai adalah bolero kanigaran-Jogja), lalu paesnya Solo putri yang tidak bisa dibilang Solo putri juga karena ada beberapa detail yang juga kurang tepat dan masih banyak lagi. Ah, benar-benar pucuk dicinta dan ulam tiba. Aku ingin sekali kenal budayaku sendiri yang makin sekarang makin terasa asing dan aku bertemu orang yang tepat └(^o^)┘ . Setidaknya nantinya aku masih punya sedikit pengetahuan untuk anakku kelak, jadi budaya Jawa tidak terhenti di generasiku.

Bicara tentang paes di Magelang, ada beberapa yang aku tahu selain Bu Wito.

1. Mbak Widhi - Sanggar Paes Shinta Ayu
Dulu, waktu aku SD, di sekolahku selalu mengadakan acara di hari Kartini. Murid-murid diminta untuk berpakaian adat daerah masing-masing. Ah, SDku merupakan yayasan milik TNI yang muridnya berasal dari Aceh sampai Papua, jadi hari Kartini adalah saat kami memamerkan pakaian adat kami masing-masing. Asyik sekali. Nah, ketika itu mamaku selalu membawaku ke Mbak Widhi ini untuk dirias sekaligus menyewa kebayanya. Dan ternyata sekarang beliau ini menjadi paes termahal di Magelang. Mahal? Konon katanya, biaya paes untuk sepasang pengantinnya tok bisa seharga sepaket jasa paes lain  yang meliputi seluruh keluarga beserta among tamunya. Kalau hasilnya sendiri aku kurang paham, yang aku tau sih bagus aja kok  waktu ngerias aku jaman SD dulu hehe.. 

2. Ibu Yunita
Paes yang satu ini juga favorit di Magelang. Terutama untuk riasan pengantin muslim. Denger-denger sih paketan sama dekorasi juga, tapi kurang tau sih..

3. Ny. Hari Trilunggono (Nama suaminya hehe..)
Aah maaf kalau nama yang kucantumkan adalah nama suaminya (dokter spesialis mata, praktek sore di Apotek Merdeka Farma) soalnya ngga tau nama beliau. Paesan beliau terkenal halus. Hanya saja mesti ati-ati di time managementnya karena beliau ini terkenal luaamaaa sekali maesnya hehe..

4. Mas Yudhi - Yudhi Wedding Service
Beliau ini sebenarnya adalah calon vendor dekor ku. *Lho? Dekor?* Iyaa.. beneran hehe.. jadi mas Yudhi ini pada dasarnya adalah seorang perias, namun juga menyediakan jasa dekorasi. Hasil makeupnya bagus juga. Beliau pakai produknya MUFE, dan khasnya adalah fokus di foundie yang sangat membaur dengan warna kulit badan, jd muka ngga kaya pake topeng. Natural.

 
Itu tadi beberapa paes yang bisa dijadikan pilihan di Magelang. Kalau dari Jogja yang sekali liat paesannya langsung naksir ya Bu Dior. Foundation yang halus dan riasan mata yang dramatis bikin hasil riasan sang pengantin jadi manglingi. Keren banget deh pokoknya.

Kenapa aku ngga menyebut nama Bu Tienuk? Hmm beliau memang paes legendaris yang merias keluarga Cendana saat punya hajat, namun sudah rahasia umum kalau beliau biasanya hanya bikin draft riasnya saja yang kemudian dilanjutkan asistennya. Kecuali aku adalah putri pejabat setingkat menteri atau selebriti papan atas. Hehe.. kalau memang demikian kenapa ngga langsung pakai jasa asistennya aja dong? #Asas-ogah-rugi

Selasa, 26 Maret 2013

Kuliner Jogja: Soto Djiancuk

Siapa sih yang ngga kenal soto? Kalau bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita, maka soto adalah makanan nasional Indonesia hehehe.. Ada banyak macam soto di seluruh penjuru Nusantara dan terlalu banyak kalau mau dibahas di sini. Nah untuk kali ini kita hanya bahas SATU warung  soto dari sekian banyak jenis soto yang ada. 

Nama warungnya adalah Soto Djiancuk. Eitts.. jangan marah dulu, bukan maksudku mau mengumpat ya (jancuk: salah satu jenis umpatan dalam bahasa Jawa). Memang nama warung soto yang berlokasi di dekat PUKJ/kampus PGRI ini adalah Soto Djiancuk. Nama yang cukup catchy hehe.. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Dari arah kampus univ PGRI lurus saja terus ke arah barat. Nanti akan terlihat sebuah printed banner lumayan besar yang ditempelkan di sebuah papan besar berbentuk lingkaran.

Gerombolan Lebay
Setelah pesan soto, kami duduk-duduk di teras warung yang berupa bale lesehan sambil makan tempe goreng. Pesanan kami baru datang setelah 15menit lebih. Cukup lama untuk ukuran soto yang biasanya disajikan kurang dari lima menit setelah pemesanan. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk kecil dan dialasi piring makan rumahan, sepertinya sih tujuannya biar kuah soto yang penuh banget itu tumpahnya ke piring. 

Muka-muka orang kelaperan
Jika mendengar kata Djiancuk maka akan langsung terasosiasi dengan bahasa Jawa timuran dan tentunya akan mudah ditebak kalau Soto Djiancuk ini adalah soto Jawa Timuran. Yang khas dari soto Jawa Timur adalah kuahnya yang berwarna gelap/buthêk. Ya, hampir seperti coto makasar tapi lebih encer. Ada toping telur rebus dua iris di atasnya, selebihnya hampir sama dengan soto kebanyakan. 

Tadaaa.. ini dia sotonya
Bagaimana dengan rasanya? Hmm.. rasa memang relatif karena berkaitan dengan selera. Kalau menurutku pribadi sih cocok dengan tasteku. Rasa bumbu dan rempah yang kuat namun tidak asin dan tidak terasa "pahit"nya micin. Kuahnya sampe ludes saking doyannya, dan itu ga akan kulakukan kalau rasa garam atau micinnya dominan. 

Untuk harganya aku ga tau, soalnya kemaren ditraktirin sih hehehe.. kayanya sih sekitar 10ribuan. Standar lah untuk harga soto enak dengan mangkuk kecil.

Place : 6 / standar warung soto sederhana
Price : 6 / standar soto jogja
Food : 7.5 / enak

Balik lagi? Yep. Dan rame2 sama temen2.