Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2017

Kuliner Jogja: NOE Coffee & Kitchen

Setelah setahun lebih ga nulis, akhirnya hari ini "dipaksa" nulis lagi. Semoga ini jadi awal yang baik untuk tetap rajin menulis.

Undangan dari Noe

Berawal dari undangan yang diberikan oleh @elowelowel untuk icip2 di sebuah kedai kopi baru yang terletak di timur RS Bethesda. Namanya NOE. Sebuah tempat hangout bernuansa rustic dengan ornamen kayu yang dominan. Rasanya seperti berada di dalam sebuah barn di Wild West. Ditambah lagi adanya simbol rusa jantan yang menghadang di pintu masuk, rasanya jadi makin kental atmosfer rusticnya. Yang bikin unik, beberapa lampu bohlam menggantung di beberapa titik ruang membuatku merasa dikelilingi kunang-kunang yang bersinar temaram. Penataannya begitu pas menimbulkan sebuah suasana romantis dan lembut di tengah "liar"nya dunia Wild West. Sangat suka!!


So rustic! Seperti di dalam barn.


Balik lagi ke nama NOE, ternyata itu adalah singkatan dari Night of Excellence. Sebuah prinsip yang ingin NOE berikan kepada setiap customer yang datang dan merasakan malam yang berkesan dari apa yang mereka sajikan.

Sekarang mari kita uji prinsip mereka tadi ;) . 

Cukup lama bagiku untuk memutuskan menu apa yang akan kupesan. Banyak makanan dan minuman favoritku yang tertera di daftar menu, diantaranya: mojito, matcha, berbagai jenis minuman kopi, spaghetti aglio olio, hingga mozzarella goreng!! Akhirnya aku memutuskan untuk memesan chicken mozzarella dan affogato.

Untuk olahan kopinya, mereka menggunakan house blend, alias campuran beberapa varian kopi yang menghasilkan citarasa khas. Sebenarnya aku sendiri bukan penggemar kopi. Namun karena Mojo hobi banget ngopi dan tiap hari harus bikinin sesuai sama taste dia, maka mau ga mau harus belajar bedain rasa kopi. Yah, balik lagi karena aku bukan penggemar kopi, aku selalu pesan affogato di setiap kedai kopi. Alasannya sudah jelas, karena ada eskrimnya namun rasa asli kopinya masih terasa. Tidak ada yang spesial jika melihat dari sisi tampilan. Standar saja, gelas bening berisi 1 scoop eskrim dan di bawah eskrim terlihat kopi kental espresso. Segera saja kusendok sedikit eskrim yang tercampur air kopi. Sempat terdiam sesaat karena terpana. Rasanya seperti terhipnotis. Kombinasi manisnya eskrim vanilla bercampur dengan asamnya house blend espresso. Kebetulan memang aku lebih suka kopi dengan rasa asam yang dominan. Suap demi suap kunikmati hingga tanpa sadar satu porsi affogato habis tandas tak bersisa.


Segelas affogato dengan latar mesin espresso Simonelli

Menu selanjutnya sudah hadir: chicken mozarella. Fillet dada ayam yang disiram dengan keju mozarella cair. Hmmm.. siapa sih yang ngga tergoda sama chooey-nya mozarella? Sensasi gurih dan mulurnya itu lhoo.. bikin nagih. Apalagi kali ini digabung sama dada ayam yang renyah karena berbalut tepung roti. Chicken Mozarella disajikan bersama french fries, salad, dan signature sauce mereka.

Chicken Mozarella


Terus terang saat melihat pricelist, harganya sedikit lebih tinggi dari ekspektasiku. Namun itu semua dapat kumaklumi saat satu demi satu menu yang kami pesan datang. Porsinya mantab!! Kalau tidak sedang dalam kondisi lapar maksimal, porsinya terlalu besar untukku. Bisa lah untuk makan cantik berduaan. Belum lagi setelah mengetahui bagaimana Head Chefnya begitu hati-hati dalam memastikan kualitas setiap bahan yang akan diolah. Kurasa harga yang mereka tampilkan sesuai dengan apa yang mereka sajikan. Kalau boleh jujur, house blend coffee mereka adalah salah satu favoritku dari beberapa kedai kopi yang pernah kucoba di Jogja.

Kurasa kalau dari sajian, Noe sudah menawarkan sesuatu yang menarik. Tinggal bagaimana memberi kesan lebih dengan "sentuhan personal" agar membuat setiap orang yang pernah mencicip sajiannya ingin terus kembali dan kembali lagi ;)


NOE: Night of Excelence

Product : 8 | House Blend Coffeenya favoritku.
Price     : 6 | sedikit pricey tapi apa yang didapat worth the money
Place    : 6.5 | agak merepotkan kalau bawa mobil di siang hari. Interior sangat IG-able.

Balik lagi? Jelas!! Ajak Mojo juga karena pasti dia bakal suka kopinya.

Minggu, 08 November 2015

Kuliner Magelang: Hideout Cafe

Kalau biasanya aku mengulas tempat makan yang berbau-bau kelokalan bin rakyat jelata, kali ini aku akan mengulas sesuatu yang lebih kekinian sekaligus kebarat-baratan. Tumbenan ya? Biasanya aja ke kaki lima. Iya lah.. Namanya juga ditraktir hohoho.. *proud to be gak modal*

Berawal dari janji kencan bersama Wina, klien yang malah jadi kaya adek sendiri *mesakke tenan nduwe mbakyu koyo aku XD* , akhirnya berujung dengan menghabiskan hari Jumat petang di sebuah cafe baru yang sedang nge-hits di Magelang. Hideout Cafe, berlokasi di Mertoyudan tepatnya sebrang SPBU Armada. Tempatnya agak menjorok ke dalam. Kalau dari arah Jogja, begitu liat SPBU Armada langsung kurangi kecepatan dan ambil ruas kiri. Nanti ada plangnya dan kalau kita nyalakan lampu sein ke kiri, ada petugas parkir yang sigap membantu. 

Tempatnya lebih luas dari yang aku sangka. Begitu masuk, ada dua counter di kanan dan kiri. Yang sebelah kanan adalah kasir dan area untuk meracik minuman. Sedangkan yang kiri adalah counter yang memajang berbagai cake. Tempat duduk di ruangan ini ada dua macam, sofa di tengah ruangan dan kursi tiffany di bagian pinggir. Seorang pramusaji menghampiriku dan menanyakan ingin tempat duduk untuk berapa orang. Aku bertanya apakah ada ruangan lain. Ternyata di bagian belakang masih ada area lain. Aku kemudian menuju pintu belakang. Ternyata di bagian belakang adalah area outdoor. Ada lorong taman dengan lampu-lampu led yang bergelantungan dan berujung pada sebuah pendopo. Di pendopo ini ada kursi-kursi kayu besar *aku selalu suka perabotan yang terbuat dari kayu-kayu besar* namun sebenarnya agak tidak cocok dengan tema di ruang depan. Akhirnya aku kembali ke ruang depan karena tujuan kami selain makan cake adalah mau foto-foto cyantiks dan di belakang tidak terlalu terang. 

Tidak lama kemudian Wina datang. Setelah haha hihi dan cipika cipiki, kami menuju counter kue-kue cantik dan sibuk memilih kue mana yang akan kami makan. Aku tanpa ragu dan tanpa berpikir panjang langsung saja menunjuk Mr.Green Tea hohoho... Green tea cake dengan warna hijau yang ngawe-ngawe. Wina yang hobi coklat memilih opera cake, menu andalan di sini. Untuk minumnya, aku pesan camomile tea dari Twinings dan Wina pesan WW alias white water atau air putih yang warnanya tidak putih. Oiya, kami juga pesan potato wedges sebagai tambahan. 

Pamer kue masing-masing, habis itu saling cuil dan saling icip
Suasana di sana cukup menyenangkan. Interior dengan gaya shabby chic pada area indoor dan gaya jawa pada area outdoor. Nuansa dominan putih mengesankan ruangan jadi bersih, lega, namun juga cantik dan klasik. Selama kami di sana, ada 2-3 rombongan kecil lain dan kami semua menikmati hidangan dengan tenang. Tidak gaduh. Cocok untuk menikmati cake sambil berbincang ringan maupun sekedar mencari ketenangan untuk minum kopi sembari membaca buku. 

Harga menunya seperti kebanyakan cafe, 8ribu untuk segelas Twinings Tea dan 10-20ribuan untuk sepotong kue. Untuk rasa, cake matcha yang kumakan enaak.. Lembut dan matchanya berasa banget. Operanya Wina juga coklatnya manteb dengan glazing kenyal-kenyal. Potato wedgesnya enak dan saus sambalnya pake Dua Belibis *favoritku!* . Minumnya biasa saja, tidak ada yang spesial dari Twinings Tea. Di mana-mana rasanya ya sama hehehe..

Kunjungan kami akhiri dengan foto berdua di salah satu sudut yang sepertinya memang disediakan bagi orang-orang demam eksis macem kami. Bahkan pramusajinya dengan sigap menawarkan diri untuk motretin kami berdua hahaha.. Jadi pengen punya malu deh.. :p

Product:  7.5 kuenya enaakk.. Aku berpikir untuk pesan satu loyang untuk ulang tahunku kelak.
Price: 6 biasa saja. Tidak murah tapi juga tidak terlalu mahal.
Place: 7 mudah dicari, punya lahan parkir untuk 3 mobil. 

Ke sini lagi? Yep! Selama ini belum nemu cake lucu yang henyak di Magelang selain di sini. 

Ngeksis di salah satu sudut ruang yang photo-able

Senin, 02 November 2015

Kuliner Semarang: Es Puter Conglik

Es Puter Coklat dan Alpukat dengan topping Roti Tawar Pandan
Sudah beberapa minggu belakangan ini Semarang istimewa sekali panasnya. Ngga siang, ngga malam gerahnya luar biasa. Rasa-rasanya air putih biasa tidak cukup menghilangkan hawa panas dari badan. Sejak itu pula lah aku dan Mojo punya kebiasaan baru yaitu minum jus buah dingin di malam hari. Kedai jus favorit kami sudah pernah aku ulas di sini. Nah, kali ini aku akan mengulas yang adem-adem juga, yaitu: Es Puter.

Rabu, 28 Oktober 2015

Kuliner Semarang: Lunpia Mbak Lien

Semarang adalah kota pelabuhan yang sangat terkenal sejak jaman dahulu kala. Begitu tersohornya hingga banyak orang-orang dari negara manca berdatangan bahkan menetap di sini. Orang-orang manca ini akhirnya tidak hanya berdagang dari Arab, Eropa maupun Tiongkok namun juga membawa serta budayanya ke Semarang. Jika sudah sampai pada budaya, tentu tidak bisa lepas dari kuliner.

Kuliner yang akan aku ulas kali ini adalah lunpia. Lunpia atau lumpia adalah salah satu menu khas Tiongkok yang sudah mendunia. Begitu pula di Semarang. Di sini, kudapan yang berisi rebung ini menjadi favorit bahkan jadi jajanan khas yang diburu para pelancong. 

icon kuliner Kota Semarang

Sabtu, 26 September 2015

Nge-Jus malem-malem

Postingan kali ini agak gak jelas. Sebenernya banyak draft tulisanku yang numpuk *setinggi tumpukan cucianku*. Tapi karena baru ga enak badan, aku pengen nulis sesuatu yang ringan dan itu artinya: kulineerr! \\^,^// 

Rabu, 06 Mei 2015

Kuliner Semarang: Nasi Ayam/Nasi Liwet Bu Widodo

Tidak terasa sudah dua bulan kami pindah ke Semarang dari Tegal. Ada senengnya, tapi juga ada sedihnya. Seneng karena deket kalau mau mudik. Tapi sedih karena harus pisah sama makanan di Tegal yang enak-enak itu.. Terutama brambang goreng Brebesnya yang kriuk dan gurih hiks.. :'(
Ah sudahlah.. Aku harus move on! Kota baru artinya tujuan wisata kuliner baru hehe.. Saatnya menjelajah khasanah kuliner Semarang.

Hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi beberapa teman tukang makan untuk minta rekomendasi. Setelah mendapat daftarnya, barulah tak larik satu per satu.

Nasi ayam Bu Widodo ini infonya kudapat dari mb Tyas, teman sekaligus mbakyuku di Semarang. Lokasinya terletak di Simpang Lima, tepatnya sentra kaki lima yang di depan Matahari Dept Store. Kalau pedagang yang lain menyediakan meja dan kursi untuk makan, tidak demikian dengan Bu Widodo. Beliau menyediakan tikar untuk lesehan para pengunjungnya. 

Begitu datang, kami langsung disambut senyum manis ibu penjualnya (itu Bu Widodo?) sembari menanyakan mau makan lauk apa. Aku sempat bingung mau pake lauk apa, karena banyak pilihannya. Ada berbagai potongan ayam, berbagai sate, juga gorengan. Akhirnya kuputuskan makan dengan lauk telur dan suwiran ayam. Aku tidak terlalu suka mengotori tanganku saat makan, jadi kupilihlah suwiran dan telur.

Ibu penjual nasi ayam yang cantik dan ramah

Jumat, 13 Februari 2015

Oleh-oleh khas Magelang: Wajik Salaman Ny. In

Kalau menyebutkan oleh-oleh makanan dari Magelang, orang tentu langsung berkata "Gethuk". Di posisi runner up, menyusul "Wajik". 

Setahuku, yang mempopulerkan wajik sebagai oleh-oleh dari Magelang adalah Ny.Week. Tentu bagi semua orang yang pernah ke Magelang, Wajik Ny.Week ini sudah tidak asing lagi. Hampir di setiap toko oleh-oleh, besar maupun kecil, pasti gambar produk ini mendominasi. Namun kali ini bukan wajik yang sudah terkenal ini yang akan aku bahas, melainkan sebuah merk lain: Wajik Salaman.

Dari namanya saja, akan mudah diketahui wajik ini berasal dari mana. Yap, betul. Dari Salaman. Untuk orang Magelang pasti sudah tidak asing dengan nama Kecamatan Salaman. Salaman adalah sebuah "kota" kecamatan di sebelah selatan Magelang yang menuju arah Kabupaten Purworejo. Lokasi Wajik Salaman ini sendiri terletak di pinggir Jalan Raya Magelang-Purworejo, tepatnya di sekitar Pasar/Terminal Salaman. Kalau dari arah Magelang, dia di kanan jalan sebelum pertigaan Polsek Salaman. Sedangkan kalau dari Purworejo/Borobudur, dia di kiri jalan setelah pertigaan Polsek Salaman. Tokonya tidak megah seperti Pusat Oleh-oleh Tape Ketan Muntilan. Bahkan papan namanya pun tidak terlalu mencolok. Tapi cukup mudah dicari karena tidak ada toko wajik lain di sana. Eh, ada sih, pusatnya Ny.Week di dekat situ juga, tapi masih beberapa ratus meter lagi ke arah Krasak/Purworejo. 

Papan namanya berlatar putih sehingga tidak terlalu terlihat. Untunglah sekarang ada shopblind dari sponsor sehingga lebih mencolok.

Jumat, 25 Juli 2014

Kuliner Tegal: Nasi Ponggol Setan

Tegal, sebuah kota di pesisir utara Pulau Jawa. Kota pelabuhan ini mempunyai ragam kuliner yang cukup beragam. Selain banyak macamnya, cita rasanya pun cukup "berani".
Salah satu bumbu favorit pada masakan khas Tegal adalah tauco. Tauco adalah kedelai yang diproses secara khusus sehingga menjadi bumbu dengan aroma dan rasa yang "kuat". Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan tauco ini. Campuran antara rasa asam, manis, dan sedikit pahit.
Nah, kuliner khas Tegal yang akan aku ulas kali ini adalah Nasi Ponggol alias Ponggol Setan atau disingkat Pongset. Nasi Ponggol adalah semacam nasi rames yang disajikan menggunakan alas daun pisang dengan berbagai kombinasi lauk dan sayur. "Topping" yang wajib ada yaitu ponggol (sambel tempe tauco), urab (sayuran rebus dicampur sambel parutan kelapa), teri, dan bakmi. Kombinasi lainnya bisa pilih telur, ayam, lele, dll.

Gerobak Lesehan Ponggol

Jumat, 24 Mei 2013

Kuliner Solo: Sego Liwet Bu Wongso Lemu

Solo atau juga dikenal dengan nama Surakarta merupakan salah satu kota yang terletak di Jawa Tengah. Kota ini tergolong istimewa karena banyak hal. Diantaranya karena kota ini merupakan pusat dari wilayah Keraton Surakarta, salah satu kerajaan yang masih eksis di Indonesia hingga kini selain Yogyakarta. Sebagai pusat kebudayaan, tentu banyak hasil budaya -budidaya- atau kreasi manusia yang menarik di Solo, termasuk kuliner.
Solo terkenal dengan begitu banyaknya kuliner yang menggugah selera dan tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Sebut saja nasi timlo, nasi liwet, serabi, tengkleng, dll. Untuk kali ini, menu yang akan aku review adalah Sego Liwet atau nasi liwet.
Untuk yang pernah ke Solo pastilah tidak asing dengan nama Bu Wongso Lemu. Nama itu adalah "merk" yang paling populer saat menyebutkan kata sego liwet Solo. Lokasinya tidak sulit dicari karena ada di dekat Jl.Slamet Riyadi yang merupakan ruas jalan yang paling mudah ditemukan bagi pelancong. Tepatnya berada di daerah Keprabon. Di ruas jalan tersebut akan ditemui sederet warung sego liwet Bu Wongso Lemu. Sederet? Ya. Memang ada banyak warung sego liwet Bu Wongso Lemu ini. Trus mana yang asli? Hehe entahlah.. mungkin asli semua. Kalau yang enak? Hmm.. kayanya sih enak semua. Hehe.. Soalnya pernah nyoba ke dua warung yang berbeda (tapi sama-sama Bu Wongso) dan enak semua.
Warung Sego Liwet Bu Wongso Lemu yang aku kunjungi kali ini adalah warung pertama di ruas jalan tersebut. Tempat duduknya bisa pilih mau di lesehan atau di bangku panjang dekat display makanannya. Oiya, warung sego liwet ini hanya buka pukul 16.00-2.00 ya.. jadi kalau siang belum buka.
Mungkin ada yang belum tahu, apa sih nasi liwet itu? CMIIW,sebenarnya nasi liwet menunjukkan cara memasak nasinya. Kalau jaman sekarang masak nasi tinggal tekan tombol "cook" di penanak nasi listrik, nah jaman dulu nasi dimasak dengan beberapa cara yang berbeda. Salah satu teknik memasak nasi tradisional adalah dengan cara liwet ini. Cara yang lain yaitu aron dan tim. Ngliwet adalah teknik memasak beras agar menjadi nasi dengan menggunakan ketel atau panci. Beras langsung dimasak di panci yang berisi air tersebut. Saat hampir matang, nasi diaduk agar matangnya rata. Cara memasak ini biasanya banyak menghasilkan kerak di dasar panci. Cara masak dengan liwet ini punya karakter yang berbeda dengan cara memasak nasi yang lain. Karena dimasak dengan api langsung (teknik lain harus menggunakan 2 panci sehingga panci berisi beras tidak terkena api secara langsung), maka tidak bisa sembarangan baik ukuran api maupun jenis beras. Api yang digunakan adalah api sedang, tidak boleh terlalu besar karena akan menyebabkan gosong atau banyak kerak di dasar panci. Jenis beraspun biasanya beras berkualitas bagus karena proses memasaknya hanya sekali, tidak dikukus lagi seperti pada teknik lain, sehingga nasi yang dihasilkan pulen.
Nah, untuk nasi liwet khas Solo ini, nasi putih tersebut disajikan bersama sayur jipang/labu siam yang diiris seukuran korek api, suwiran ayam, dan terakhir, topping kepala santan yang disebut areh. Untuk tambahannya bisa pilih hati ampela, telur, atau potongan daging ayam. Mengenai penyajiannya sendiri menggunakan daun pisang yang dilipat sedemikian rupa dan ditusuk dengan lidi atau istilahnya pincuk.
Untuk satu porsi nasi liwet Bu Wongso Lemu ini kurang lebih 11ribu, jika ada tambahan lain seperti telur, daging ayam, dll jadi 15-20ribuan. Untuk minumannya selain yang standar ada wedang kacang, wedang ronde, dll. Wedang kacangnya enak, hanya saja karena kacangnya kurang empuk jadinya aku kurang suka.

Place: 7 . Warung sederhana dan bersih, termasuk toiletnya.
Food: 8 enak, terutama nasinya pulen banget
Price: 8 MURCE!! Love it!

Jelas ke sana lagi dong.. tempat wajib kunjung kalau ke Solo nih.

Rabu, 22 Mei 2013

Soto Tauto Pekalongan

Seminggu yang lalu kami: aku, mama, Rintintin dan pacarnya, Kiky ke Pekalongan. Niat utamanya sih ngantar mama ada perlu ketemu sama supplier, tapi berhubung sudah sampai sana jauh-jauh rasanya rugi kalau ngga mampir ke Pasar Sentono. Sebelum hunting batik, kami mampir makan di warung Soto Tauto di sisi depan Pasar Sentono.
Soto Tauto adalah makanan khas Pekalongan. Yang unik dari soto ini adalah menggunakan tauco pada kuahnya. Tauco adalah semacam saus yang dibuat dari kedelai. Isi sotonya ada soun, daging (bisa pilih ayam atau daging sapi), dan irisan daun bawang buaanyak *o(^^o)horee..daun bawangnya banyak(o^^)o* . Soto tauto dimakan bersama lontong atau nasi putih. Untuk rasa? Jelas sesuai namanya, rasa khas tauco sangat mendominasi. Rasa tauco itu sedikit masam dengan aroma yang cukup kuat.

Rasa: 7 / ada rasa tauconya bikin khas
Harga: 6 / standar soto turis lah, 15rb ama minum
Tempat: 6 / warung sederhana yang cukup bersih

Selasa, 26 Maret 2013

Kuliner Jogja: Soto Djiancuk

Siapa sih yang ngga kenal soto? Kalau bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita, maka soto adalah makanan nasional Indonesia hehehe.. Ada banyak macam soto di seluruh penjuru Nusantara dan terlalu banyak kalau mau dibahas di sini. Nah untuk kali ini kita hanya bahas SATU warung  soto dari sekian banyak jenis soto yang ada. 

Nama warungnya adalah Soto Djiancuk. Eitts.. jangan marah dulu, bukan maksudku mau mengumpat ya (jancuk: salah satu jenis umpatan dalam bahasa Jawa). Memang nama warung soto yang berlokasi di dekat PUKJ/kampus PGRI ini adalah Soto Djiancuk. Nama yang cukup catchy hehe.. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Dari arah kampus univ PGRI lurus saja terus ke arah barat. Nanti akan terlihat sebuah printed banner lumayan besar yang ditempelkan di sebuah papan besar berbentuk lingkaran.

Gerombolan Lebay
Setelah pesan soto, kami duduk-duduk di teras warung yang berupa bale lesehan sambil makan tempe goreng. Pesanan kami baru datang setelah 15menit lebih. Cukup lama untuk ukuran soto yang biasanya disajikan kurang dari lima menit setelah pemesanan. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk kecil dan dialasi piring makan rumahan, sepertinya sih tujuannya biar kuah soto yang penuh banget itu tumpahnya ke piring. 

Muka-muka orang kelaperan
Jika mendengar kata Djiancuk maka akan langsung terasosiasi dengan bahasa Jawa timuran dan tentunya akan mudah ditebak kalau Soto Djiancuk ini adalah soto Jawa Timuran. Yang khas dari soto Jawa Timur adalah kuahnya yang berwarna gelap/buthêk. Ya, hampir seperti coto makasar tapi lebih encer. Ada toping telur rebus dua iris di atasnya, selebihnya hampir sama dengan soto kebanyakan. 

Tadaaa.. ini dia sotonya
Bagaimana dengan rasanya? Hmm.. rasa memang relatif karena berkaitan dengan selera. Kalau menurutku pribadi sih cocok dengan tasteku. Rasa bumbu dan rempah yang kuat namun tidak asin dan tidak terasa "pahit"nya micin. Kuahnya sampe ludes saking doyannya, dan itu ga akan kulakukan kalau rasa garam atau micinnya dominan. 

Untuk harganya aku ga tau, soalnya kemaren ditraktirin sih hehehe.. kayanya sih sekitar 10ribuan. Standar lah untuk harga soto enak dengan mangkuk kecil.

Place : 6 / standar warung soto sederhana
Price : 6 / standar soto jogja
Food : 7.5 / enak

Balik lagi? Yep. Dan rame2 sama temen2.