Rabu, 23 Juli 2014

Busana Prosesi Pernikahan


Bagi banyak wanita, busana merupakan salah satu hal terpenting dalam prosesi pernikahan. Berbagai persiapan pastilah dilakukan. Mulai dari menentukan model baju, hingga menentukan penjahit/desainer mana yang akan diberi kepercayaan membuat busana di hari terpenting dalam hidup tersebut.
Gaun pengantin cantik (sumber gambar : www.weddingsromantique.com
Kebaya Muslim (sumber gambar: Poetrafoto)
Busana Pengantin Paes Ageng (sumber gambar: PakJepret)
Meski dalam keseharian aku termasuk orang yang ribet saat harus memilih pakaian, tapi anehnya tidak berlaku untuk acara pernikahanku. Dari awal aku tidak berkeinginan untuk mengenakan wedding gown ataupun kebaya untuk resepsi, sehingga tidak perlu repot cari model maupun kain yang sesuai. Aku ingin mengenakan busana gaya Solo yang (kalau bisa) sesuai pakemnya. Sempat galau antara pakai gaya Solo Putri atau gaya Solo Basahan. Namun kupikir gaya Solo Basahan akan lebih cantik untukku. Sempat timbul permasalahan saat calon Mama Mertua menyarankan untuk tidak berpakaian terbuka mengingat kedua mama berjilbab. Setelah berkonsultasi dengan ibu paesku yang ayu, Bu Wito, akhirnya didapatkan solusi dengan melakukan modifikasi penambahan bolero pada busana Solo Basahan tersebut. Itu sekaligus menjadi solusi penghemat waktu agar jeda antara Akad dan Resepsi tidak terlalu lama. Aku akan mengenakan busana Basahan tersebut sejak Akad, hanya saja nanti boleronya pakai warna yang beda.

Busana Pengantin Solo Basahan Taqwa (sumber gambar: lupa ngga disimpan nama webnya, hasil googling)
Kemudian untuk siraman dan midodareni, aku pun tidak ingin jauh dari pakem. Menurut pakem, kain jumputan (yg warnanya gonjreng cantik itu) bukan dikenakan saat siraman seperti yang banyak kutemui saat ini, melainkan saat midodareni. Saat siraman seharusnya mengenakan kain bangun tulak dan rambut digerai. 

Kain penutup dada menggunakan kain Bangun Tulak, kain berwarna biru-putih-biru
Sedangkan untuk bawahan menggunakan kain Udan Liris, kain berwarna biru dengan motif garis-garis tipis berwarna putih yang melambangkan hujan gerimis.
Kemudian saat midodareni barulah mengenakan kain jumputan sarimbit (kain satu stel: kebaya, bawahan, dan selendang). Model kebayanya pun, untuk Solo adalah kebaya dengan kutubaru, beda dengan Jogja (ga tau namanya). Saat midodareni, CPW tidak boleh mengenakan asesoris/perhiasan apapun, baik itu kalung, anting, ataupun bros. Konon katanya biar pas resepsi bisa manglingi.

Butuh usaha lebih untuk mencari kain jumputan sarimbit ini. Aku selama beberapa bulan mencari di Laweyan, namun stok warna pink yang kuminta tidak kunjung ada. Menurut empunya beberapa gerai di Laweyan, tidak banyak lagi pengrajin yang mau bikin jumputan. Kalaupun ada, hanya berupa kain satu lembar saja. Bukan satu set. Karena sudah jarang sekali permintaan akan kain jumputan sarimbit tersebut. Akhirnya aku pasrah memilih warna kuning yang menurut Mama terlihat sangat cerah di kulitku (ah, iyalah.. anakmu ini kan pake apa aja keren :p) 
Kain Jumputan Sarimbit yang terdiri atas kain untuk atasan, bawahan, dan selendang.
Kain jumputan ini aku percayakan kepada mas Tatok untuk dibuat kebaya yang cantik. Mas Tatok ini adalah seorang desainer muda yang banyak bermain di kain-kain tradisional, seperti jarik dan lurik. Hasil karyanya pun sudah banyak masuk media cetak khusus kebaya maupun televisi.

Untuk prosesi akad nikah, kami akan mengenakan busana Basahan Taqwa (kaya nama tahu yak? hehehe.. ini istilah untuk busana basahan yang diberi bolero) dengan bolero berwarna kuning. Aku sih tidak memilih secara spesifik. Sudah kusampaikan sebelumnya kalau aku tidak terlalu ribet. Aku hanya berpesan ke Bu Wito "Sumonggo, kulo nderek kemawon. Namung kulo nyuwun kangge akadipun kelire ingkang enem" [Silahkan, saya ngikut saja. Hanya saya minta untuk akad warnanya yang muda] Alhasil beberapa minggu kemudian asisten Bu Wito membawakan sepasang bolero kuning cantik yang akan kami coba. 

Untuk resepsi dan upacara panggih, kami mengenakan busana yang sama, hanya saja ganti selop dan bolero menjadi warna hijau. Lagi-lagi aku tidak terlalu banyak permintaan, saya serahkan ke pemaes. Saya hanya memberi gambaran dekorasi yang kurancang sehingga Bu Wito bisa memperkirakan warna yang sesuai. Untunglah dekorasi yang kuinginkan cukup netral warnanya, sehingga warna apapun dapat masuk dengan cukup cantik.