Selasa, 23 Desember 2014

Siraman dan Midodareni

Ngek ngookk... setelah lama keasyikan jadi istri sampe males buka blog dan akhirnyaa saya kembaliii hahaha.. Kemaren-kemaren adanya cuma jalan-jalan, kulineran, nonton DVD, sampe gitaran sama nyanyi-nyanyi berdua sama suamiku tercintah. Bener-bener dunia serasa milik berdua. Males banget mau buka blog hehe.. 

Langsung aja deh cerita tentang proses siramanku. Semoga ingatanku cukup bagus dalam mengulang prosesi tersebut.
Kreweng buatanku 
 nantinya digunakan sebagai alat tukar saat prosesi dodol dawet.

Siramanku dilaksanakan hari Jumat, tanggal 20 Desember 2013 di rumah CPW alias rumahku. Acara dimulai setelah ibadah shalat Jumat selesai, namun sejak pagi aku sudah merasa resah karena hujan turun sejak dini hari. Setelah bangun pagi, aku langsung ke halaman belakang rumah untuk memastikan daun senthe (apa sih bahasa Indonesianya? Keladi kali yak? Atau talas?) sudah dipotong. Daun senthe ini akan digunakan untuk membungkus pecahan genteng sebagai pengganti uang atau kreweng saat prosesi dodol dawet. Biasanya orang menggunakan uang koin dari tanah liat. Tidak jarang pula yang koin tersebut dicetak nama mempelai. Namun menurut Bu Wito, aslinya kreweng dibuat dari genteng utuh yang kemudian dipecah, lalu dibungkus dengan daun senthe dan diikat tali kenur. Pecahan genteng dan potongan daun senthe sudah siap, namun aku tidak bisa menemukan tali kenur. Akhirnya setelah bongkar-bongkar kamar, aku menemukan pita yang cukup panjang. Kuputuskan untuk memakai pita tersebut. Dan lagi setelah jadi ternyata lebih cantik, warna hijau daun yang dililit pita yang berwarna merah.

Sebagai catatan, jika hendak menggunakan daun senthe, sebaiknya daun disiapkan sehari sebelumnya. Jangan kaya aku, mendadak disko dan akhirnya tanganku sukses gatel-gatel kena getahnya >_< . Baru tau  istilah "Terkena getahnya" ternyata ga enak banget.

Oiya, sempat ada insiden kecil di pagi hari. Jadi karena malam hari sebelumnya hujan hebat (sampe pagi pun masih lumayan deres) yang disertai angin, properti dekorasi siramanku porak-poranda dihantam angin. Hikz.. sempat agak shock. Tapi entah kenapa selama hari acara, aku sangaaattt santai dan ngga panik. Beda banget sama hari-hari menjelang acara. Berkah Gusti. Sampe adekku bilang "Kowe kok ngguya ngguyu wae ket mau? (Kamu kok senyam-senyum terus dari tadi?)"  Setelah mengetahui area pemandianku yang mawut itu, aku segera mengirim BBM ke Mas Kelik (Dekorasi Lawang Pitoe) dan mbak Dora (DG Organizer). Mereka dengan sigap memperbaiki dekorasi siramanku dan sudah kembali cantik sebelum tengah hari. Hehehe ngga salah deh menyerahkan dekorasi ke Lawang Pitoe.

[File foto pas pada roboh belum ketemu ]

Bu Wito sedang meronce bunga melati sembari menunggu Den Ayune Dian mandi :p

Setelah cengengas-cengenges sambil wira-wiri kaya mandor, dan matahari mulai menunjukkan sinarnya dengan malu-malu, ada salah seorang karyawan kami menghampiriku dan berkata "Mbak, itu Bu Wito sudah datang." MAAKKK!! Aku belum mandiiiii! Aku langsung bilang lagi ke si mbak "Ya udah Mbak, dipinarakke dulu. Aku tak mandi." sambil ngacir. Konangan nek manten e keset hahaha...


Sesaji tumpeng, ayam, dan berbagai uba rampe siraman

Setelah mandi kilat (dan pake baju tentunya) aku langsung bergegas menemui Bu Wito yang seperti biasa terlihat ayu dan anggun. Ternyata di bawah sudah banyak kru yang berkumpul, termasuk tim fotografi, katering, dll. Di meja-meja sudah terllihat banyak ubo rampe dan sajen sebagai syarat prosesi siraman nanti. Ada air tujuh sumber, tumpeng, bunga-bungaan, kreweng yang tadi pagi kubuat, dan entahlah, banyak sekali hehehe.. Aku pun bersiap untuk dirias oleh Bu Wito. Sesaat sebelum dirias, aku sempat berbincang dengan Mas Indra (PakJepret Photography). Dia ngga percaya kalau Bu Wito, putri sulungnya sudah berusia 40 tahun. Hihihi.. Habisnya masih cantik bangett..

Air untuk siraman yang diambil dari 7 mata air yang mewakili 7 macam harapan

ingkung atau ayam utuh sebagai salah satu sesaji

perlengkapan busana siraman

Nasi tumpeng gurih sebagai salah satu kelengkapan prosesi siraman

  Sebelum aku dirias, asisten Bu Wito menyalakan ratus/dupa bakar dan diletakkan di kolong meja di dalam kamar manten. Hmm.. aku suka sekali bau dupa. Aromanya harum, mistis, sekaligus menenangkan. Aroma dupa itu merasuk di sela-sela rambutku dan rambutku jadi ikut bau haruumm.. Rasanya seperti putri Jawa beneran deh. Coba kalau lokasinya di rumah limas atau di candi hihihi... Berasa Ken Dedes beneran. Selama dirias, aku, Bu Wito, dan Teteh Hera (PakJepret Photography) banyak berbincang sehingga suasana menjadi sangat santai. Tidak ada perasaan tegang atau risau sama sekali. 

Ratus bakar yang baunya haruumm..
Hasil riasanku saat siraman terkesan "polos dan lugu" (haiisssh..). Aku merasa sangat sesuai dengan konsep siraman yang bertujuan untuk berserah padaNya dan membersihkan diri dari berbagai hal yang buruk, baik dari dalam diriku maupun menangkal sesuatu yang buruk dari luar. Untuk busana yang kukenakan menggunakan kain jarik motif udan liris, yang artinya hujan gerimis. Saat itu aku masih ingat Bu Wito ngendiko "Udan liris punika simbol, Mbak Dian. Filosofinipun supoyo calon manten dipun gampilaken rejekine kaliyan dados tiyang estri ingkang tabah menawi nemoni cobaan." [Udan liris ini simbol, Mbak Dian. Filosofinya agar calon pengantin mudah jalan rejekinya dan jadi wanita yang tabah saat menghadapi cobaan] Hihihi kalau aku melihatnya kain bawahan itu cocok sekali dengan suasana pagi itu yang masih dihiasi hujan gerimis. Rasanya romantis sekali. Untuk kembennya, aku mengenakan kain bangun tulak, kain berwarna biru tua dengan kombinasi putih. Bangun tulak, memiliki makna tolak bala atau menghindarkan diri dari hal-hal jahat. Menurut pakem gaya penganten Solo, inilah kostum siraman yang sesuai pakem.

tata rias untuk siraman
Sebelum memulai semuanya, ada prosesi pasang tuwuhan dan cethik geni. Aku lupa mana yang lebih dulu. Pasang tuwuhan ini sebagai simbol yang menandai bahwa keluarga tersebut sedang memiliki acara hajatan (kalo ga salah sih gitu :p ). Sedangkan untuk cethik geni adalah prosesi menanak nasi yang dilakukan oleh suami istri pemangku hajat. Menanak nasinya tidak sembarangan dan ada tata caranya. Yang pertama, menggunakan 7 macam kayu yang berbeda dan memiliki makna dalam budaya Jawa. Aku lupa jenis kayu yang digunakan, tapi yang jelas kayu-kayu tersebut merupakan simbol yang baik dalam budaya Jawa. Tujuh macam kayu tersebut mewakili doa dan harapan seperti halnya 7 sumber air yang digunakan untuk siraman. Setelah apinya jadi, pemangku hajat menanak nasi dan selama prosesi dimulai sampai selesai, mereka tidak boleh bicara sama sekali. Prosesi cethik geni ini merupakan simbol harapan agar dalam mengadakan pesta hajatan semua tamu dapat terjamu dengan baik dan setelah acara usai sang pemangku hajat tidak mendengar suara yang tidak menyenangkan (digunjingkan karena tidak menjamu tamu dengan baik).

pasang tuwuhan


tujuh macam kayu yang digunakan untuk cethik geni

mempersiapkan beras untuk dimasak
menyiapkan api


teks sungkeman yang bikin mewek
Prosesi sungkeman dimulai. Acara sungkeman ini merupakan wujud "pamitan" dan ungkapan terima kasih anak gadis kepada orang tuanya. Ya.. bisa dibayangkan acara ini bakal jadi momen mengharukan. Aku bukan orang yang sensitif, jadi ngga terlalu memikirkan itu. Hehehe.. Cuman salim doang sambil jalan jongkok. Dan aku berjalan jongkok perlahan menghadap orang tuaku. Pihak WO menyodoriku teks dan microphone. Eh? Ada bacaannya juga ya? Aku ngga ingat disuruh baca ginian segala. Ya udah deh, baca aja. Susah amat. Dan kemudian sodara-sodara.. Entah karena suasana yang khidmat atau nyadar aku akan segera lepas dari Mama Papa atau apalah akupun ngga tahu, aku mewek saat baca teks tersebut hahaha.. Adek-adekku pun masih ngga percaya aku menangis terharu. Mereka pikir itu air mata buaya. Hahaha... Setelah aku selesai membaca teks, pihak WO menyodorkan teks lain dan mikrofon ke Papa. Namun Papa diam saja tidak mau menerima teks tersebut dan mengkode Mama agar menerimanya (dan dari dokumentasi aku baru tahu kalau mata Papa ternyata merah berkaca-kaca menahan tangis). Mama menggenggam mikrofon dan teks itu, namun juga tak kunjung dibacanya. Justru tangis yang pecah. Pak Wiyoto (Pranata Cara) yang tanggap terhadap situasi tersebut, memberi kode untuk melanjutkan ke proses selanjutnya dengan memberikan narasi tentang proses sungkem. Aku kemudian maju dan bersimpuh mencium tangan Papa sambil mohon maaf dan mengucap terima kasih atas semua kasih sayang yang telah diberikan kepadaku. Papa hanya mengangguk dan berkata "ya" kemudian memelukku. Pandangannya masih menunduk seperti saat aku membaca teks tadi. Aku berpindah sungkem ke Mama. Aku mengatakan hal yang sama, mohon maaf dan mengucap terima kasih kepada Mama. Tangis Mama semakin menjadi sambil memelukku erat. Sungguh, momen itu merupakan momen yang sangat mengharukan untukku. Bahkan saat menulis ini sambil me-recall peristiwa itu pun sudah cukup untuk membuatku kembali menitikkan air mata. Saat itu aku sangat merasakan betapa Mama Papa begitu mencintaiku dan menginginkan aku selalu bahagia. Thanks to Mbak Dora dan kru DG nya. Mereka sudah membuat acara ini begitu khidmat.

momen mengharukan itu
sungkem kepada orang tua untuk berterimakasih dan pamitan

Proses siraman dimulai dengan kedua orang tua menuntun calon penganten putri memasuki area siraman. Bu Wito memimpin prosesi ini diiringi narasi oleh Pak Wiyoto. Siraman yang pertama dilakukan oleh orang tua, kemudian dilanjutkan oleh sesepuh putri (ada eyang, eyang buyut, budhe, dll) dan ditutup oleh Bu Wito. Untuk sesepuh putri yang ikut nyirami, diberi sovenir handuk mandi. Tadinya sih handuk sovenir ini mau dilipat biasa aja dan dikemas pake tas, tapi akhirnya minta tolong mbak Heni yang bikin angsul-angsul (hantaran balasan seserahan sebagai tanda kasih dari Ibu CPW untuk CPP) buat ngebentuk handuknya jadi bentuk kucing. Hihihi.. lucu banget hasilnya. Untung dulu bikinnya lebih, jadi masih nyimpan satu buat kenang-kenangan. Oh iya, untuk proses siraman, airnya waktu itu dicampur dengan air panas supaya ngga terlalu dingin. Magelang udaranya cukup dingin dan sudah beberapa hari hujan terus. Termasuk saat siraman berlangsung pun hujan gerimis dan ada kabut meski tipis. Kalau ngga dicampur air panas, bisa-bisa bersin-bersin terus di pelaminan :p .

CPW memasuki area siraman dengan nyeker hihihi...

Papa menuangkan air Tirta Perwita Sari

untungnya dicampur air panas, jadinya kaya mandi air anget

air yang tersisa digunakan untuk wudhu

memecahkan kendi sebagai simbol memecah pamor anak gadisnya
si Mama penggembira doang gendongnya XD

dodol dawet
miongnya lucuukk
 

Setelah selesai dimandiin di muka khalayak ramai (hehehe..), aku bergegas kembali ke kamar untuk mengeringkan badan dan berganti busana yang digunakan untuk potong rambut dan dulangan

Acara dilanjutkan dengan potong rambut, dulangan (aku disuapi nasi tumpeng), dan menghitung kreweng hasil jualan dawet (eh, entahlah urutannya. Lupa deh hehehe). Waktu disuapin nasi tumpeng rasanya enak banget hehehe.. habis dimandiin, dingin, makan tumpeng. Duh.. enak bangettt..

Kostumku sekarang adalah kemben dan jarik jumputan berwarna pink. Horeeee.. akhirnya ada warna pink di prosesi pernikahanku hahaha.. Meski aku suka warna merah jambu, namun dengan sangat menyesal tidak ada ornamen dengan warna ini. Kenapa? Karena menurutku merah jambu sebagai ornamen dekorasi terkesan kekanak-kanakan dan kurang priyayi. Tidak cocok untuk acara sakral. Kalau busana siraman ngga papa lah.. (maksa dikit sih)
potong rambut untuk ditanam bareng rambut CPP

aaaaakk.. le mangap sak kayange XD

menghitung kreweng hasil dodol dawet

kreweng disimpan di kolong


potongan rambutku dan Mojo ditanam bareng

smoochh.. I love you, Mama Papa

Setelah acara sungkeman selesai, aku kembali menuju kamar pengantin. Aku dirias untuk acara midodareni nanti malam. Aku penasaran dengan riasanku. Konon katanya saat malam midodareni, seorang calon pengantin putri akan terlihat sangat cantik meski tanpa perhiasan satupun. Iya, benar. Saat midodareni, CPW tidak boleh pake perhiasan, meski bros atau anting sekalipun. Cincinku pun ku lepas saat itu. Untuk busananya, aku mengenakan kebaya jumputan sarimbit (kain atasan dan bawahan satu setel) berwarna kuning yang ku beli di Kampung Batik Laweyan. Kain itu aku percayakan kepada Mas Tatok Prihasmanto, seorang desainer pendatang baru yang lihai mengolah kain corak tradisional jadi kebaya atau gaun cantik. Hasil karyanya dapat dilihat di acara Opera Van Java, berbagai majalah kebaya, dan acara-acara fashion show. Waktu membawa kain tersebut, aku hanya berpesan kepada Mas Tatok agar aku terlihat seksi dan berkilau (halah..Syahrini kalee) meskipun tanpa perhiasan. Dan hasilnya adalaaahhh....

keringin rambut dulu

diorek-orek dan dikerik. Yang dikerik dikit sih.. udah jenong soalnya :(

almost done

just a little bit moooree..

yeayy..

dibantu @lalalilinda pake bustier

lilin cantiknya sia-sia :(
Sebenarnya saat Midodareni, mas Kelik (Lawang Pitoe) sudah menyiapkan sesuatu yang sangat cantik. Lampu di sepanjang pagar dan lilin apung yang tersebar di kolam kami (kami punya kolam ikan di belakang rumah). Namun sayang sekali karena sebelum acara lagi-lagi hujan turun sehingga lilin-lilinnya padam dan lampu-lampunya padam karena konsleting. Hiks.. padahal di malam sebelumnya sudah terlihat sangat cantik dan romantis. Kru dekorasi dibantu WO tidak punya cukup waktu untuk memperbaiki sebelum acara midodareni dimulai. Ya sudahlah... dekorasi adalah pemanis, inti acaranya adalah prosesi. Kru sudah bekerja maksimal, namun hujan tidak dapat dihindari. Aku bersyukur tidak jadi mengambil Manohara sebagai venue pernikahanku. Bisa makin runyam kalau dekorasi resepsi outdoor basah kuyub diguyur hujan.

 Untuk acara Midodareni, aku tidak mengikuti secara langsung. Aku menunggu di dalam kamar sambil sesekali mengintip dari dalam (hihihi iseng banget..). Di dalam kamar, aku dan Teh Hera ngobrol sambil foto-foto cantik. Selang beberapa saat kemudian pintu kamar diketuk dan keluarga mempelai pria yang putri-putri masuk ke kamar. Budhe, Tante dan Mbak-mbaknya Mojo bergantian menyalami dan kami foto-foto cantik lagi hehehe... Harusnya sih kalau jaman dulu, momen ini digunakan untuk memberi wejangan kepada calon pengantin putri dalam menghadapi pernikahannya. Waktu itu juga diwejangani sih.. tapi banyakan fotonya hihihi.. Oh iya, Mamanya Mojo ngga hadir pada Midodareni karena diwakilkan (orang tua tidak hadir sendiri namun mengirim utusan). Setelah melihat calon pengantin putri dalam keadaan baik, maka rombongan calon pengantin putra pamit.
rombongan keluarga CPP tiba di kediaman CPW
tim DG organizer sigap membantu menata seserahan

sambutan dari perwakilan keluarga CPP
sambutan dari perwakilan keluarga CPW

Mojo mirip banget sama mas-nya XD

penyerahan pisang sanggan
pembacaan teks Catur Wedha (empat nasehat) dari ayah mertua kepada calon mantu
kasian nahan haus :p

kalau mengikuti aturan pakem, CPP ngga boleh makan. Tapi daripada gangguan lambung ya makan aja hehe..

Mojo and the girls X.O.X.O

foto cantik by Teh Hera
kebaya jumputan by Crisantium

foto bersama keluarga CPP

foto-foto cyantiks lagiii..

foto bersama keluarga CPW

siblings