Kamis, 01 Oktober 2015

Pasar Sentiling: Pesona Semarang Tempo Doeloe

Beberapa waktu yang lalu, aku dihubungi oleh salah seorang mbakyuku, namanya mbak Tyas. Beliau memberitahu bahwa ada salah seorang alumnus kampus kami yang akan datang ke Semarang. Sudah kebiasaan kami, jika tahu ada anggota Kagama yang datang ke Semarang akan disambut dengan ngumpul bareng alias kopdar. 

Kopdar kali ini ada yang berbeda. Tidak hanya alumni UGM yang hadir, namun ada beberapa orang spesial lain yang juga turut hadir. Salah satunya adalah Pak Peter. Beliau adalah salah seorang tokoh penggerak kegiatan-kegiatan seni dan pemerhati sejarah di Jawa Tengah. Pak Peter banyak bercerita tentang sejarah Semarang yang berujung pada kisah di mana Semarang ini dulunya adalah sebuah kota pelabuhan yang begitu maju dan tersohor hingga mancanegara. Bahkan, di Semarang ini pernah terselenggara sebuah hajatan besar, sebuah pameran internasional yang dihadiri 600.000 orang di tahun 1914. Begitu besarnya hingga disebut-sebut sebagai pameran terbesar di Asia kala itu. Areanya mencapai lebih dari 20 hektar. Pameran itu bernama Koloniale Tentoonstelling de Semarang atau lidah orang kita bilang Pasar Sentiling, yang diambil dari penyederhanaan kata tentoonstelling (pameran).

Makan siang di Restoran Oen bersama para senior penggiat seni dan budaya.

Singkat cerita, Pak Peter dan ibu pemilik Restoran Oen (yang juga merupakan warga peduli sejarah) ingin khalayak, khususnya generasi muda, juga kenal sejarah besar itu. Agar masyarakat Semarang makin cinta dan menjaga kotanya. Maka dari itu, bersama Oen Foundation, ingin menghidupkan kembali festival itu. Ternyata, acara ini sudah pernah diadakan tahun lalu bertepatan dengan mengenang 100 tahun Koloniale Tentoonstelling de Semarang. Tahun ini festival ini diadakan kembali  pada tanggal 19-20 September 2015.

Pasar Sentiling 2015
Aku sangat bersemangat saat mendengar kabar itu. Sebuah festival sekaligus mengenal sejarah kota yang kutinggali. Segera saja kuagendakan untuk menghadiri acara tersebut. 

Aku dan Mojo datang ke Pasar Sentiling pada hari Minggu malam yaitu hari terakhir. Kami parkir di area yang agak jauh karena jalan menuju ke area festival sudah ditutup.
Gerbang masuk Pasar Sentiling
Begitu memasuki area festival di Kota Lama, kami sudah disambut gerbang selamat datang berbentuk lengkung. Kota lama ini adalah "Braga" nya Semarang. Banyak bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda yang dialihfungsikan menjadi kedai kopi, bank, butik, restoran, dll tanpa mengubah bangunan aslinya. Di sinilah Pasar Sentiling diselenggarakan. Kami seperti diajak untuk kembali naik mesin waktu ke 100 tahun lalu. Ada sekelompok bapak-bapak tua berseragam opsir berdiri dengan gagahnya di samping sepeda motor antik sambil menggenggam senapan. Ternyata mereka adalah bapak-bapak dari komunitas sepeda antik yang berdandan khusus untuk festival ini. Banyak pengunjung yang berfoto bersama mereka dengan tidak lupa mengisi kotak donasi seikhlasnya. Tidak jauh dari situ, terlihat sekelompok wanita cantik berbusana tradisional Belanda ala maskot susu Dutch Lady. Lengkap dengan wooden clognya. Ternyata mereka adalah petugas stand sekolah desain papan atas, Susan Budiharjo. Melangkah ke sisi yang lain, pecinta otomotif akan kembali dimanjakan dengan pameran mobil klasik. Di area ini juga tersedia photobooth dengan membayar sejumlah uang. 
Pameran mobil antiknya malu-malu. Pas bagian mobilnya malah banyak yang gelap.

Karena eksis itu sebuah kebutuhan XD
Kami kembali menyusuri area pameran dan melewati area kuliner. Di sini ada begitu banyak pilihan jajanan. Memang, tidak semua adalah menu yang sesuai tema, tapi cukup variatif. 

Jajaran tenda kuliner dan sovenir
Tiba-tiba, tanpa terasa kepalaku mengangguk-angguk mengikuti irama lagu. Ternyata di tengah area kuliner ini terdapat mini stage. Panggung mini ini menampilkan sebuah band yang memainkan lagu-lagu rock oldies dengan nuansa blues. Kami berdua berhenti dan menikmati beberapa lagu yang mereka bawakan dengan asyik. Para personil bandnya tidak mau kalah dengan yang lain. Mereka mengenakan kostum yang juga bergaya oldies.
Ngga tahu nama bandnya, tapi mereka membawakan lagu-lagu lawas dengan gayanya yang asyik.

Setelah puas mendengar irama yang memanjakan telinga, Mojo mengajak ke sisi yang lain, area stand sponsor. Ketika melihat-lihat stand-stand sponsor yang ada, tiba-tiba ada yang memanggil Mojo. Ternyata salah seorang temannya buka stand sponsor di sini. Teman Mojo mengambilkan segelas minuman yang ia jual untuk disuguhkan kepada kami. Karena aku tidak biasa minum kopi dan lagi mereka lama tidak bertemu, aku memutuskan untuk pamit berkeliling dan membiarkan mereka bertukar kabar.
Di area yang lain juga ada tenda kuliner yang menyajikan berbagai menu jadul maupun kekinian.

Aku terus berjalan semakin ke dalam area festival dan ada panggung besar di ujungnya. Panggung yang menurutku cukup megah. Dan betapa beruntungnya aku karena Nita Aartsen, seorang musisi jazz, sedang tampil. Musik jazz, bangunan art deco, dan suasana tempoe doeloe. Aahh.. Sungguh, nikmat mana lagi yang akan kudustakan? 

Para pengunjung Pasar Sentiling yang sedang menikmati penampilan Nita Aartsen di panggung utama.
Waktu mulai menunjukkan pukul 22 dan ponselku bergetar menandakan bahwa ada yang menghubungiku. Ternyata Mojo mengajak pulang karena esoknya harus bekerja. Hihihi.. sampai lupa waktu. Aku pun berbalik dan menghampiri Mojo yang menungguku. 

Meski festival ini masih jauh dari sempurna, tapi Pasar Sentiling berhasil memberiku sebuah pengalaman yang cukup mengesankan bisa berpetualang di Semarang tempoe doeloe. Aku berharap acara ini diadakan kembali tahun depan, tentunya dengan berbagai perbaikan dan atmosfer kolonial yang lebih kental lagi.

Sampai jumpa kembali tahun depan, Pasar Sentiling.